Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Friday, June 19, 2009

Rambut Jagung Luruhkan Batu Empedu


Selama ini Anda mungkin mencari solusi alami untuk mengatasi masalah batu empedu. Bisa jadi rambut jagung adalah pilihannya. Pasalnya, sebagai terapi awal, rambut jagung ternyata memiliki potensi besar untuk meluruhkan batu empedu. Beberapa uji laboratorium telah menguatkan dugaan itu.

Rambut jagung dalam kehidupan sehari-hari lebih dilihat sebagai limbah dari industri pangan maupun rumah tangga. Padahal, seperti diungkapkan ahli tanaman obat Dr.Setiawan Dalimartha, sebagian besar masyrakat sudah memanfaatkan air rebusan rambut jagung sebagai obat tradisional untuk peluruh air seni dan penurun tekanan darah.

Penelitian mengenai kandungan rambut jagung sayangnya masih terbatas dan belum banyak dipublikasi. Namun, beberapa penilitan menunjukan ditemukan adanya kandungan flavonoid yang bermanfaat sebagai peluruh batu empedu.

Sebelum Anda mengonsumsi, pastikan memilih rambut jagung yang masih segar. Maksudnya, pilih jagung yang segar dan ambil rambut jagung yang sebagian masih terbungkus pelepah jagung.

"Jadi bukan yang di luar. Karena rambut jagung bagian dalam jauh lebih bersih dan banyak mengandung zat yang bermanfaat," kata Setiawan.

Tertarik untuk mencoba? Cara meramunya mudah kok.

Peluruh batu empedu
Siapkan 30 gram rambut jagung, rebus dengan air secukupnya. Setelah mendidih, saring airnya lalu dinginkan. Saring kembali, dan setelah dingin dapat diminum. Minum ramuan ini sehari sekali.

Pereda panas dalam
Siapkan 30-40 gram rambut jagung dan irisan daun pandan. Rambut jagung dan daun pandan direbus dengan air secukupnya. Setelah dingin, saring lalu diminum.

Peluruh kencing (diuretik)
Siapkan 30-50 gram rambut jagung dan satu rimpang jahe ukuran sedang. Rebus bahan-bahan dengan air secukupnya. Setelah dingin, saring. Boleh ditambah madu.

KOmpas

Ingin Sehat? Jangan Lupa Cuci Tangan


Cegah penularan penyakit dengan selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Diare, infeksi mata, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), flu burung dan flu babi, termasuk dalam penyakit yang menular dengan cepat. Meski demikian, penyakit-penyakit tersebut sebenarnya bisa dicegah dengan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Chocrane Library Journal tahun 2007 menyebutkan cuci tangan dengan sabun efektif menahan virus ISPA dan pandemi flu. Riset di Inggris tahun 2007 juga menyebutkan cuci tangan lebih efektif dibandingkan obat dan vaksin untuk menghentikan flu. Cuci tangan juga efektif mencegah penyakit tifus, empat jenis cacingan, disentri, kolera, serta hepatitis A.

Menurut pakar kesehatan, Handrawan Nadesul, virus dan kuman sangat mudah berpindah. "Bukan cuma lewat jabat tangan, tapi juga dari pegangan pintu, tombol lift, gagang telepon, dan apa pun yang terpegang di tempat umum," katanya. Untuk mencegah masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh, virus dan kuman yang menempel itu harus dibasuh dengan air dan sabun.

Sayangnya mencuci tangan belum jadi perilaku masyarakat Indonesia. Studi Basic Human Services di Indonesia tahun 2006 mengenai perilaku masyarakat dalam mencuci tangan menyebutkan hanya 12 persen yang mencuci tangan setelah buang air besar, 9 persen setelah membersihkan tinja bayi dan balita, 14 persen sebelum makan, 7 persen sebelum memberi makanan bayi dan 6 persen sebelum menyiapkan makanan.

Lewat kegiatan sederhana dan murah, seperti cuci tangan, bisa memiliki dampak ekonomi yang sangat besar. Di Filipina biaya kesehatan yang diirit berkat kebiasaan cuci tangan mencapai 455 juta dollar AS.

Menurut Bank Dunia, perilaku cuci tangan dengan sabun kurang dipromosikan sebagai tindakan pencegahan. DepKes RI sendiri sudah memasukkan cuci tangan dengan air bersih dan sabun dalam elemen penting peningkatan kesehatan anak Indonesia.

Meski demikian, menurut dr.Abidinsyah Siregar, Kepala Pusat Promosi Kesehatan DepKes, tindakan pencegahan penyakit belum jadi bagian dari perilaku masyarakat. "Perilaku merupakan penyebab terbesar masalah kesehatan kita," katanya.

Untuk membentuk perilaku yang sehat seharusnya dimulai sejak dini. "Kalau sudah dewasa sudah sulit mengubahnya," ujar Handrawan. Karena itu mencuci tangan seharusnya masuk dalam pendidikan kesehatan di sekolah dan di rumah. Dalam hal ini peran orangtua dan tenaga pendidik sangat diharapkan. "Menjadi sehat artinya berperilaku sehat," katanya.

Kompas

Agar Diabetesi Tidak Diamputasi


Salah satu hal yang dikhawatirkan terjadi pada orang dengan diabetes (diabetesi) adalah jika terjadi luka yang membusuk (gangren), lalu harus diamputasi. Secara medis diketahui, luka membusuk itu akan terus merembet ke bagian tubuh lain. Satu-satunya jalan untuk menghentikannya adalah dengan memotong bagian busuk itu.

Bagaimana caranya agar terhindar dari kejadian mengerikan itu? Ikuti saran berikut ini:

- Jaga gula darah tetap normal dengan cara-cara sesuai yang diajarkan dokter, yakni mengontrol makan, berolahraga, dan minum obat.

- Jaga berat badan ideal. Terlalu gemuk akan meningkatkan risiko lipatan-lipatan tubuh lembab, menjadi sarang kuman, dan mengalami lecet akibat gesekan.

- Hindari segala macam kemungkinan yang dapat menyebabkan tubuh mengalami luka. Perlu diingat, pada diabetesi, luka akan membawa risiko sulit sembuh dan membusuk.

- Hentikan kebiasaan berolahraga atau joging tanpa alas kaki karena akan meningkatkan risiko kaki mengalami perlukaan. Perlu diingat, bagian yang jauh dari jantung memiliki kemungkinan kebas karena aliran darah tidak cukup. Akibatnya, jika kaki tertusuk pasir, duri, paku, dan sebagainya, tidak akan terasa.

- Sebelum menggunakan sepatu, selalu pastikan bahwa di dalam sepatu benar-benar bersih dan aman, tidak terselip pasir atau sesuatu yang dapat menimbulkan luka.

- Perhatikan cara yang benar saat memotong kuku, baik kuku tangan, maupun kuku kaki supaya menghindari kemungkinan tertusuk.

- Jika terjadi perlukaan, segeralah berkonsultasi ke dokter ahli agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Kompas

Agar Diabetesi Tidak Diamputasi


Salah satu hal yang dikhawatirkan terjadi pada orang dengan diabetes (diabetesi) adalah jika terjadi luka yang membusuk (gangren), lalu harus diamputasi. Secara medis diketahui, luka membusuk itu akan terus merembet ke bagian tubuh lain. Satu-satunya jalan untuk menghentikannya adalah dengan memotong bagian busuk itu.

Bagaimana caranya agar terhindar dari kejadian mengerikan itu? Ikuti saran berikut ini:

- Jaga gula darah tetap normal dengan cara-cara sesuai yang diajarkan dokter, yakni mengontrol makan, berolahraga, dan minum obat.

- Jaga berat badan ideal. Terlalu gemuk akan meningkatkan risiko lipatan-lipatan tubuh lembab, menjadi sarang kuman, dan mengalami lecet akibat gesekan.

- Hindari segala macam kemungkinan yang dapat menyebabkan tubuh mengalami luka. Perlu diingat, pada diabetesi, luka akan membawa risiko sulit sembuh dan membusuk.

- Hentikan kebiasaan berolahraga atau joging tanpa alas kaki karena akan meningkatkan risiko kaki mengalami perlukaan. Perlu diingat, bagian yang jauh dari jantung memiliki kemungkinan kebas karena aliran darah tidak cukup. Akibatnya, jika kaki tertusuk pasir, duri, paku, dan sebagainya, tidak akan terasa.

- Sebelum menggunakan sepatu, selalu pastikan bahwa di dalam sepatu benar-benar bersih dan aman, tidak terselip pasir atau sesuatu yang dapat menimbulkan luka.

- Perhatikan cara yang benar saat memotong kuku, baik kuku tangan, maupun kuku kaki supaya menghindari kemungkinan tertusuk.

- Jika terjadi perlukaan, segeralah berkonsultasi ke dokter ahli agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Kompas

Saturday, May 30, 2009

Tambal Gigi dengan Asam Empedu

gigiLetak empedu dan gigi lumayan jauh. Yang satu berada di dalam rongga perut, sedangkan yang lain berada dalam rongga mulut. Namun siapa sangka, asam yang dihasilkan empedu ternyata dapat digunakan untuk menambal lubang pada gigi.

Fungsi asam empedu sebagai bahan penambal alami ini diungkap oleh para ilmuwan di Kanada dan Cina yang berhasil mengembangkan sebuah material keras menggunakan asam empedu manusia. Material keras ini diharapkan dapat digunakan untuk menambal gigi berlubang.

Saat ini, lubang pada gigi biasanya diisi dengan tambalan dari merkuri atau plastik meski kini penambal putih yang terbuat dari plastik lebih umum digunakan dokter gigi ketimbang bahan tambalan gigi tradisional berwarna perak yang mengandung merkuri. Material dari zat kimia anorganik, baik merkuri maupun plastik, memicu kekhawatiran karena berpotensi menimbulkan racun.

gigiApalagi banyak bahan penambal dari plastik yang mengandung unsur kontroversial, semisal BisGMA, yang kerap dikaitkan dengan pecahnya tambalan secara prematur dan perlahan melepas bisphenol A, sebuah substansi yang dianggap bersifat toksik bagi manusia dan lingkungan.

alam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal ACS Applied Materials & Interfaces, para ilmuwan tersebut menggambarkan bagaimana mereka mengumpulkan asam empedu dan mengubahnya menjadi plastik keras dan tahan lama yang tampaknya memiliki kemampuan antiretak yang jauh lebih baik daripada material lain yang kini digunakan oleh para dokter gigi.

Asam empedu adalah substansi alami yang dihasilkan oleh hati dan disimpan di dalam kantong empedu untuk membantu mencerna lemak. "Material baru ini kelihatannya jauh lebih kuat, juga lebih tahan lama, dengan berpotensi mengurangi rasa nyeri akibat penambalan retakan dan kunjungan darurat ke dokter gigi," kata Julian Zhu dari departemen kimia Shanxi University di Cina, yang mengepalai tim peneliti itu.


Tempo

Monday, May 25, 2009

Tiga Gizi Saat Hamil

TIGA gizi penting yang juga harus diperhatikan ketika hamil adalah asam folat, zat besi dan kalsium. Asam folat diperlukan untuk memenuhi tuntutan pertumbuhan volume darah selama kehamilan. Jika kurang mengkonsumsi ini, akibatnya adalah spina bifida dan anemia bagi si ibu. Asam folat bisa ditemukan pada sayuran daun hijau, gandum, telur kacang dan hati. Namun diet saja tidak cukup untuk mendapatkan folat. Mengkonsumsi suplemen asam folat pada trimester pertama sangat dianjurkan.

Selama kehamilan, volume darah akan meningkat untuk itu kebutuhan akan besi juga meningkat. Zat besi akan memacu produksi hemoglobin untuk mengirimkan oksigen yang cukup bagi janin. Zat besi bisa ditemukan pada daging merah, ayam tanpa kulit, ikan, ati, kacang, tumbuhan polong, gandum dan sayur daunan hijau. Zat besi akan sangat baik diserap jika ditambah dengan konsumsi vitamin C yang bisa diperoleh dari buah-buahan segar dan sayuran.

Pembentukan tulang dan gigi yang sehat sangat bergantung pada kalsium dan vitamin D yang diasup. Janin siap untuk mengkonsumsinya, maka pola makan si ibu harus menyediakan jumlah yang cukup karena jika tidak, malah tulang si ibu yang akan menjadi rapuh! Kalsium bisa diperoleh pada susu, keju dan yoghurt. Bisa juga ditemukan di ikan seperti sarden, salmon kemasan, ikan asin dan tahu, roti serta susu kedelai.


Sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2008/04/18/01092638/tiga.gizi.saat.hamil

Pala, Mujarab buat Perut


TANAMAN multiguna dan komoditas ekspor Indonesia nonmigas utama ini kaya akan vitamin C, kalsium, dan fosfor. Pala juga biasa digunakan sebagai obat diare, kembung, mual, serta untuk meningkatkan daya cerna dan selera makan.

Salah satu oleh-oleh khas yang wajib diburu kalau berlibur ke Bogor dan Cianjur adalah manisan buah. Buah yang banyak diolah menjadi manisan adalah pala, mangga, kedondong, pepaya, kemang, kebembem, dan jambu biji.

Di Bogor, yang merupakan salah satu sentra produksi pala, manisan pala paling populer. Konon, manisan pala telah dikenal di Bogor sejak zaman Belanda, yaitu ketika petinggi-petinggi VOC banyak berdiam di kota hujan tersebut.

Ada dua jenis manisan pala, yaitu manisan pala basah dan manisan pala kering. Selain sebagai manisan, daging buah pala juga dapat diolah menjadi jeli, sirop, dodol, chutney, selai, sari buah, wine, dan cider pala.

Bagian buah pala yang paling tinggi nilai ekonominya adalah biji dan fuli. Biji umumnya digunakan pada makanan manis dan kaya rempah, seperti produk roti, dan juga sebagai bumbu dalam masakan daging serta produk minuman dan dessert. Sementara itu, fuli digunakan sebagai bahan flavor pada produk roti, seperti cake, cookies, pie, dan topping, juga sebagai bumbu pada masakan laut, pikel, dan minuman.

Populer Sejak Baheula
Tanaman pala termasuk dalam kelas Angiosperma, subkelas Dicotyledonae, ordo Ranales, family Myristiceae dan Myristica, terdiri dari 15 genus dan 250 species. Dari 15 genus tersebut, 5 di antaranya terdapat di daerah tropis Amerika, 6 di daerah tropis Afrika, dan 4 genus di daerah tropis Asia, termasuk Indonesia.

Tanaman pala (Myristica fragrans) merupakan salah satu tanaman rempah-rempah asli Indonesia yang daerah produksinya tersebar dari Kepulauan Maluku, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Aceh, dan Papua. Pada awal masa perdagangan (VOC), pala merupakan rempah-rempah yang dicari layaknya emas.

Hingga kini, peran pala sebagai mata dagang tradisional Indonesia di dunia masih sangat besar. Indonesia merupakan produsen utama pala dengan memasok sekitar 74 persen dari kebutuhan pala dunia (Puslitbangtri, 1990).

Pada zaman penjajahan Belanda, tanaman pala disebarkan ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Oleh karena itu, pala memiliki beberapa nama khas daerah, seperti falo (Nias), palo (Minangkabau), pahalo (Lampung), pala (Sunda), paala bibinek (Madura), kalapelane (Seram), parang (Minahasa), dan gosoka (Halmahera, Tidore, dan Ternate).

Tanaman pala merupakan tanaman multiguna karena setiap bagiannya dapat dimanfaatkan dalam berbagai industri. Biji, fuli, dan minyak atsiri dari pala merupakan yang paling banyak dieskpor, serta digunakan dalam industri makanan dan minuman. Minyak yang berasal dari biji, fuli, dan daun digunakan dalam industri obat-obatan, parfum, dan kosmetik.

Dalam industri obat-obatan, buah pala memiliki beragam khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Dalam dosis rendah, pala dapat digunakan untuk mengurangi flatulensi (kembung perut), meningkatkan daya cerna dan selera makan, serta untuk mengobati diare, muntah, dan mual (Chevallier, 2001).

Komponen myristicin yang terkandung dalam daging buah memiliki kemampuan sebagai agen insektisidal dan dianggap berkontribusi terhadap sifat halusinogen yang dapat menyebabkan halusinasi (Dorsey, 2001).

Di beberapa daerah, daging buah pala dibuang sebagai limbah setelah diambil biji dan fulinya. Hal tersebut patut disayangkan karena daging buah pala merupakan komponen terbesar dari buah pala segar (83,3 persen), dibanding fuli (3,22 persen), tempurung biji (3,94 persen), dan daging biji (9,54 persen).

Pemanfaatan buah pala secara optimal akan dapat meningkatkan pendapatan petani. Sebab, dengan pengembangan produk olahan strategis yang memanfaatkan limbah daging buah pala, bisa memberikan keuntungan ganda.

Kaya Komponen Volatil
Tanaman pala dapat tumbuh baik pada tanah dengan struktur gembur dan penuh humus, derajat keasaman tanah 5,5-6,5, pada dataran rendah hingga ± 700 m dari permukaan laut, dengan curah hujan antara 2.000-3.000 mm/tahun. Tanaman pala merupakan tanaman berumah dua (deoceous) yang berarti bunga jantan dan betina tidak terletak pada satu pohon. Ada juga pohon yang berkelamin dua atau hemaphrodit, tetapi jarang sekali terjadi.

Tanaman pala mulai berbunga setelah berumur 6-10 tahun, tergantung dari keadaan tanah dan iklim. Bunganya berwarna pucat, kecil, lunak, dan berbau harum serta berbentuk malai. Malai bunga jantan terdiri dari 1-10 bunga dan malai bunga betina 1-3 bunga. Jangka waktu pertumbuhan buah dari mulai persarian hingga masak petik tidak lebih dari sembilan bulan (Rismunandar, 1990).

Tanaman pala dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 meter, mahkota pohon yang bervariasi antara bentuk piramidal (kerucut), lonjong (silindris), dan bulat. Mulai berbuah setelah berumur 8-9 tahun, hasil maksimum pada umur 25 tahun dan dapat bertahan sampai umur 60 tahun.

Pohon pala yang telah berumur 10-12 tahun menghasilkan buah sekitar 800-2.000 buah per tahun dari 2-3 kali panen (Hadad, 2001). Buah pala berbentuk seperti buah pir, ujungnya meruncing, kulitnya licin, berdaging, dan cukup banyak mengandung air

Buah pala mempunyai daging buah keras, berwarna keputih-putihan, mengandung getah putih, dan rasanya kelat. Diameter buah pala bervarisi dari 3-9 cm. Bila buah telah masak di pohon, daging buah terbuka sehingga biji pala yang berwarna cokelat menjadi mudah terlihat.

Biji pala kaya akan lemak sehingga dapat diekstrak untuk menghasilkan minyak pala. Daging buah pala kaya kalsium, fosfor, vitamin C dan A, serta sedikit zat besi. Daging buah pala mengandung 29 komponen volatil (senyawa yang mudah menguap) dengan 23 komponen telah teridentifikasi dan 6 komponen lain belum teridentifikasi. Komponen yang paling banyak terkandung dalam minyak atsiri daging buah pala adalah á-pinen (8,7 persen), â-pinen (6,92 persen), ?-3-karen (3,54 persen), D-limonen (8 persen), á-terpinen (3,69 persen), 1,3,8-mentatrien (5,43 persen), ã-terpinen (4,9 persen), á-terpineol (11,23 persen), safrol (2,95 persen), dan myristicin (23,37 persen) (Hustiany, 1994).


Prof. DR. Made Astawan

Awas, Obat Tradisional Malaria Rusak Ginjal dan Hati!

Pengobatan tradisional terhadap penyakit malaria yang menggunakan tanaman dari kelompok "simaroubaceae" bisa merusak sel ginjal dan hati.

Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI, Praptiwi, mengungkapkan kemungkinan itu setelah dia melakukan uji simulasi terhadap tikus putih.

Ia memberi ekstrak dari tumbuhan yang termasuk kelompok "simaroubaceae", yaitu tanaman pasak bumi, buah makasar, kayu pahit, dan kayu tulang, kepada tikus putih selama tujuh hari berturut-turut.

"Ternyata terdapat kerusakan pada sel ginjal dan sel hati," kata Praptiwi di Puslit Biologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat, Rabu.

Ia menjelaskan hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya zat beracun yang terdapat dalam empat jenis tanaman yang tergolong dalam kelompok "simaroubaceae" itu.

Oleh karena itu dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah penggunaan jenis-jenis tanaman tersebut berdampak sama jika dikonsumsi secara teratur pada sel ginjal dan sel hati manusia.

"Kami menggunakan mencit karena siklus parasit malarianya sama dengan siklus parasit malaria pada manusia," kata Praptiwi.

Masyarakat lokal mengonsumsi olahan tanaman pasak bumi, buah makasar, kayu pahit, serta kayu tulang, sebagai obat tradisional untuk mengobati penyakit malaria.

Praptiwi menjelaskan di dalam empat tanaman tersebut memang terdapat komponen kimia yang dapat mengobati penyakit malaria.

"Penelitian lebih lanjut akan memisahkan mana komponen kimia yang menyebabkan kerusakan, dan mana komponen kimia yang bermanfaat bagi pengobatan malaria," kata peneliti yang sejak lama meneliti tanaman obat malaria tersebut.

Ia juga memperkirakan penelitian tersebut membutuhkan waktu sekitar dua tahun lagi, untuk menemukan senyawa kimia murni dari tanaman pasak bumi, buah makasar, kayu pahit, dan kayu tulang yang dapat digunakan sebagai obat malaria.

Lidah Manusia Bisa Merasakan Kalsium


Ilustrasi: Lidah

Sensasi rasa ternyata tak terbatas manis, asam, asin, dan pahit, seperti kita ketahui selama ini. Beberapa tahun lalu, rasa umami yang merupakan sensasi sedap atau lezat seperti rasa gurihnya penyedap rasa telah diterima sebagai rasa kelima.

Tak cukup di situ saja karena lidah manusia mungkin dapat membedakan cita rasa keenam. Reseptor-reseptor indera pengecap yang menyebar di permukaan lidah manusa ternyata dapat merasakan kehadiran kalsium.

"Kalsium berasa calcium-y. istilah tersebut memang sangat asing. Kira-kira pahit dan sedikit asam," ujar Michael Tordoff, pakar genetika perilaku dari Pusat Rasa Kimia Monell di Philadelphia, AS. Ia mengatakan timnya menyimpulkannya sebagai rasa kelima setelah melakukan serangkaian penelitian.

Menurutnya, manusia secara tidak sadar sebenarnya telah merasakan kalsium dalam air tawar meskipun kandunganya sangat kecil. Jika kandungannya kecil, rasa tersebut dapat diterima lidah. Namun, dalam kandungan banyak justru tidak enak.

Fenomena rasa kalsium itu mungkin berhubungan dengan tingkat rasa pahit dan kandungan kalsium pada buah-buahan dan sayur-sayuran. Rasa kalsium inilah yang menurut Tordoff menyebabkan seseorang kadang-kadang tidak menyukai sayura-sayuran dan buha-buahan jenis tertentu.

Namun, hal tersebut tidak berlaku pada susu dan produk olahannya. Meskipun kadar kalisumnya tinggi, masih kalah kuat dengan lemak dan protein sehingga tak begitu terasa.

"Beberapa jensi hewan memiliki kememapuan pengecap kalsium sangat baik sehingga mereka dapat mencari dan mengonsumsi sesuai kebutuhan tubuhnya," ujar Tordoff. Misalnya, badak yang sering menjilati tanah atau air laut.

Kemampuan mendeteksi kalsium ditentukan gen yang disebut CaSR. Gen tersebut ditemukan pada ginjal, otak, dan usus. "kami baru tahu kalau gen tersebut juga ada pada lidah," ujar Tordoff.

Ayo Tambah Kalsium untuk Anak Anda!


Konsumsi makanan yang mengandung kalsium anak Indonesia secara umum masih rendah. Padahal, 99 persen kandungan kalsium di dalam tubuh berada di tulang sehingga akan memengaruhi pertumbuhan tubuh.

Dr Fauzi mengatakan, kalsium berperan dalam proses pertumbuhan tulang dan gigi, proses pembekuan darah, fungsi kerja otot dan jantung, metabolisme tingkat sel, sistem saraf, dan masih banyak lagi. "Metabolisme tubuh sangat memerlukan kalsium," katanya.

Sumber kalsium, kata Dr Fauzi, berasal dari nabati seperti sayuran daun hijau (brokoli, bayam, sawi, daun pepaya, daun singkong, daun labu), biji-bijian (kenari, wijen, almond), dan kacang-kacangan (kedelai, kacang merah, kacang polo). "Untuk dari hewan seperti daging sapi, kambing, udang, ikan, telur, susu, dan produk susu seperti yogurt, keju, es krim," ucapnya.

Dr Rizal menjelaskan, berdasarkan data Departemen Kesehatan kebutuhan kalsium bagi anak bervariasi sesuai usia. Untuk kelompok anak usia 0-6 bulan memerlukan 200 mg, 7-11 bulan 400 mg, 1-6 tahun 500 mg, 7-9 tahun 600 mg, dan 10-18 tahun 1.000 mg.

Menurutnya, jika asupan kalsium kurang akan timbul gejala lesu, lemah, berkeringat, kram otot, nyeri perut, gangguan tidur, pembentukan tulang tidak optimal, tulang keropos, proses pembekuan darah terganggu. "Jika terus-menerus akan mempengaruhi proses tumbuh kembang," ujarnya.

Diragukan, Kehalalan Vaksin Meningitis Haji


Lembaga Advokasi Konsumen Muslim Indonesia dan Rabhitah Haji Indonesia meragukan kehalalan vaksin meningitis yang diwajibkan bagi seluruh jemaah haji Indonesia. Pasalnya, vaksin tersebut dicurigai mengandung enzim babi, yang jelas haram bagi kaum Muslim.

"Kita memang mempertanyakan soal vaksin ini pada pemerintah, apalagi pemerintah, Majelis Ulama Indonesia dan BP POM sendiri juga belum mengeluarkan pernyataan yang tegas tentang kehalalan atau tidaknya vaksin meningitis tersebut," ujar Asad Nugroho dari Advokasi Konsumen Muslim Indonesia di Jakarta, Jumat (22/5).

Menurut Asad, pemerintah seharusnya mengeluarkan pernyataan, atau segera meneliti kebenaran atau kesalahan dari isu enzim babi di vaksin meningitis ini. Ketua Umum Rabithah Haji Indonesia, Ade Marfuddin juga mengingatkan pemerintah yang seharusnya bisa memberikan perlindungan dan pelayanan bagi jemaah haji Indonesia.

"Perlindungan ini bukan hanya keselamatan jemaah haji, tetapi juga kandungan-kandungan yang tidak halal dari semua yang diberikan pemerintah dan masuk ke tubuh setiap jemaah haji," ujarnya.


Sumber : kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/22/13193890/diragukan.kehalalan.vaksin.meningitis.haji

Implementasi Perwal Rokok Perlu Tegas


Lebih cerdas untuk menjauhi rokok dan asapnya, lindungi paru-paru Anda.

Pemerintah perlu bersikap tegas dalam mengimplementasikan regulasi tentang kawasan tanpa rokok. Hal ini menyusul disahkannya Peraturan Walikota Nomor 12 Tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM) pada 14 Mei lalu.

Ketua Komunitas Peduli Kawasan Tanpa Rokok Abdul Mufid, Jumat (22/5), di Kota Semarang, mengatakan, diperlukan sosialisasi yang efektif dan implementasi di lokasi-lokasi yang telah ditentukan agar regulasi yang diterbitkan dapat berjalan. Perlu ada penegakan hukum yang tegas, katanya. Rencananya, sosialisasi Perwal ini akan menggunakan dana bagi hasil cukai dan tembakau dari pemerintah pusat sebesar Rp 1,5 miliar.

Ubah Pola Hidup, Jantung Koroner Menjauh


Olahraga satu cara cegah PJK

Penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang orangtua, tetapi sudah mulai menyerang mereka yang baru berusia 30 tahun. Tentu saja, ini tidak mengherankan karena kita sudah terbiasa dengan pola hidup tidak sehat sejak kecil.

Demikian diungkap Dr. Pauline Endang Praptini M.S. pakar kesehatan gizi klinis dari R.S. Fatmawati Jakarta, Jumat (22/5). "Pasien PJK yang datang kepada saya mulai umur 30 tahun - 70 tahun, sebagaian besar di antaranya masih muda-muda," kata Pauline.

Menurut Pauline, penyebab utama PJK adalah tingginya kolesterol dalam tubuh. Penyebab lain adalah diabetes melitus, hipertensi, jarang olah raga, obesitas, merokok, dan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang kadar lemaknya tinggi namun rendah serat.

PJK mesti disikapi sejak dini karena proses penyumbatan pembuluh darah sudah mulai terjadi sejak kita mulai mengonsumsi daging dan goreng-gorengan. Menurut Pauline proses ini makin menjadi ketika kita menerapkan pola hidup tidak sehat seperti sering makan makananan cepat saji, minum soft drink, minum gula terlalu banyak tidak diimbangi dengan air putih dan jarang olahraga. "Soft drink itu memicu pankreas memroduksi insulin berlebih sehingga pankreas dipaksa bekerja keras. Lama-lama pakreas rusak, dengan demikian kadar gula meninggi karena insulinnya berkurang," terang Pauline.

Untuk itu, sangat perlu dan mendesak mengubah pola hidup yang sehat. Tidur 8 jam, makan-makanan berserat, berolahraga secara teratur, tidak merokok, menurunkan berat badan, menekan kadar kolesterol <200 style="color: rgb(255, 153, 255);">.


Sumber : kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/22/21314181/ubah.pola.hidup.jantung.koroner.menjauh

Waspadai Pengobatan Patah Tulang Alternatif


Menjamurnya pengobatan patah tulang alternatif yang tidak terdaftar dan tidak memenuhi standar kesehatan diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah melalui Departemen Kesehatan. Dokter spesialis bedah tulang RS Pelni Jakarta Barat, dr. Mulyono Soedirman SpB, SpOT mengatakan, hendaknya Departemen Kesehatan mengeluarkan peraturan terkait maraknya praktik pengobatan alternatif yang tidak berstandar medis itu.

"Saya tidak mendukung keberadaan praktik itu, dan berharap pemerintah mengeluarkan policy. Meskipun secara biaya pengobatan itu tergolong ringan bagi pasien kelas menengah ke bawah," katanya.

Ia menambahkan, risiko bagi seorang penderita patah tulang jika tidak ditangani dengan tepat akan mengakibatkan kelumpuhan. Mulyono mengatakan, yang harus lebih diperhatikan dalam penanganan patah tulang adalah perbedaan usia tulang.

"Tidak bisa disamakan tulang pada usia dewasa dan tulang pada usia anak. Kesalahan penanganan patah tulang pada anak bisa mempengaruhi pertumbuhannya kelak," katanya.

Ia mengatakan, jika keberadaan praktik-praktik pengobatan itu tidak segera ditanggulangi, dikhawatirkan semakin banyak masyarakat yang menjadi korban. "Saat ini banyak masyarakat yang mengadu pada para medis akibat kesalahan penanganan patah tulang oleh pengobatan alternatif itu," katanya.

Secara logika, kata Mulyono, mana mungkin seseorang mengobati patah tulang tanpa mengetahui letak cedera secara pasti. "Sekarang bagaimana mungkin orang menangani patah tulang tanpa rontgen?" tegasnya.

Tindakan tegas dari pemerintah mengenai pengaturan keberadaan praktik-praktik pengobatan alternatif, menurut Mulyono, dapat melindungi kelompok masyarakat tertentu yang seringkali menjadi korban praktik kesehatan tanpa standar Depkes itu.

Sumber : kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/23/05443979/waspadai.pengobatan.patah.tulang.alternatif

Waspada Jantung Sejak Remaja


Meski saat usia paruh baya atau bisa jadi lebih tua penyakit jantung koroner (PJK) menyerang seseorang, sejak usia dini tepatnya saat remaja kita harus waspada. Karena ternyata tak hanya pola hidup tak sehat saja yang menyebabkannya, melainkan juga faktor genetik.


"Memang pasien PJK karena faktor genetik jarang ditemui," kata Dr. Pauline Endang Praptini M.S spesialis gizi klinis dari R.S. Fatmawati Jakarta, Jumat (22/5). Meski begitu, bukan berarti kita tidak mengindahkannya. Jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena penyakit ini maka kemungkinan keturunannya juga terkena. "Namun untuk prevalensinya belum diketahui," katanya.

Risiko PJK termasuk tinggi bila kita mengidap kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, kegemukan, dan gemar merokok. "Kemungkinan seseorang terkena PJK semakin tinggi ketika ia tidak hanya memiliki satu faktor risiko. Misalnya, seseorang sudah obesitas masih merokok pula. Ini sangat berbahaya," tutur Pauline.

Karena itu perhatikan agar pola hidup tak sehat seperti gemar mengonsumsi makanan berlemak tinggi seperti jeroan, terutama yang berasal dari hewan berkaki empat, mengonsumsi lemak jenuh seperti terdapat dalam santan kental dan makanan yang digoreng dengan minyak sayur jelantah, konsumsi mentega yang tergolong lemak trans ini dan segera hentikan .

Sumber : kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/23/07593416/waspada.jantung.sejak.remaja

Dansa Tango, Tingkatkan Kesembuhan Penderita Parkinson


Pengobatan penyakit parkinson akan makin efektif bila dibarengi dengan terapi dansa, semisal tango. "Dansa adalah bentuk ekspresi gerakan tubuh yang paling komprehensif, sehingga pada penyandang parkinson, dansa dapat menjadi suatu cara yang paling kuat untuk melatih mereka mengontrol gerakan dengan baik. Dansa juga sudah dikonfirmasikan mempunyai nilai rehabilitasi pada penyandang parkinson," terang Dr Banon Sukoandri, SpS, Ketua Yayasan Peduli Parkinson dalam Peringatan Hari Parkinson Sedunia, di Jakarta (23/5).

Sebuah studi tahun 2008 di Washington University School of Medicine, St Louis, Amerika Serikat, yang meneliti para penyandang parkinson menyebutkan para penyandang parkinson yang mengikuti kelas dansa tango Argentina sebanyak 20 sesi dalam 10 minggu menunjukkan peningkatan dalam hal keseimbangan dan mobilitas jika dibanding dengan pasien yang hanya melakukan senam konvensional.

"Hal tersebut disebabkan karena gerakan dansa tango menggunakan berbagai aspek gerak yang sesuai dengan para penyandang parkinson. Seperti keseimbangan dinamis, berputar, inisiasi gerak, bergerak dengan kecepatan berbeda, dan berjalan mundur," kata dia.

"Tidak menutup kemungkinan untuk dansa umum yang biasa kita lakukan, seperti untuk di Indonesia ada gerakan poco-poco atau line dance yang sekarang sedang menjadi tren," imbuhnya.

Selanjutnya, Banon menuturkan, dengan harmonisasi dari gerakan dan musik, maka badan, otak, dan perasaan penderita akan terstimulus. "Dengan begitu, mereka tidak hanya diam, mereka juga senang itu sangat membantu proses pengobatan," ujarnya.

Lebih lanjut dia menerangkan, penyandang penyakit parkinson juga perlu memahami terdapat kemungkinan munculnya kembali gejala penyakit parkinson setelah menggunakan suatu jenis pengobatan. "Oleh karena itu, suatu pengobatan dan terapi harus tetap dilakukan (terus). Latihan dansa juga harus tetap dijalankan, kalau tidak maka akan terjadi kemunduran lagi," tuturnya.

Banon berharap, walaupun sampai saat ini penyakit parkinson belum ditemukan obatnya, para penderita parkinson diharap tetap bersemangat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Sumber : kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/23/12255749/dansa.tango.tingkatkan.kesembuhan.penderita.parkinson