Showing posts with label Spesies. Show all posts
Showing posts with label Spesies. Show all posts

Tuesday, June 16, 2009

Anjing Kloning Korea Tubuhnya Bisa Menyala



Foto yang dirilis Universitas Nasional Seoul menunjukkan salah satu anjing jenis beagle hasil kloning yang menyala jika terpapar ultraviolet.


Para ilmuwan di Korea Selatan mengklaim telah berhasil mengkloning empat ekor anjing jenis beagle. Uniknya, tubuh keempat anjing tersebut bisa menyala.

Tubuhnya hanya akan berpendar warna merah jika dipapar sinar ultraviolet. Bagian yang berpendar terutama di kuku dan bagian tubuh yang berkulit tipis seperti perut.

Profesor Lee Byeoung-chun dari Universitas Nasional Seoul yang memimpin riset kloning ini menyebutnya sebagai anjing transgenik pertama di dunia yang membawa gen fluorescent. Sebelumnya, peneliti AS dan China baru bisa melakukannya pada tikus dan babi.

"Pencapaian penting dalam riset ini tidak hanya warna merahnya itu, namun gen yang berhasil kami tanam di tubuhnya," ujar Lee. Teknik penyisipan gen yang dapat membuat tubuh berpendar biasanya dimanfaatkan untuk mendeteksi sel-sel kanker dalam rangka mengembangkan terapi pengobatan.

Tim yang dipimpin Lee menggunakan sel kulit anjing induknya untuk menghasilkan keempat anjing kloning tersebut. Para peneliti menyisipkan gen fluorescent sebelum intil sel tersebut disuntikkan ke dalam sel telur kosong dan ditanam ke rahim anjing angkatnya.

Anjing-anjing kloning tersebut lahir pada Desember 2007. Awalnya ada 6 ekor anjing kloning yang berhasil lahir dengan selamat, namun dua di antaranya tidak bertahan hidup. Empat lainnya yang sehat diberi nama Ruppy, kependekan dari ruby dan puppy.

Kompas

Si Kerdil dari Pegunungan Andes

Begitu kecilnya katak ini, sampai-sampai dia "muat" di ujung jari manusia. Noblella pygmaea ini adalah katak mini, katak terkecil yang pernah ditemukan di Andes dan salah satu amfibi terkecil di dunia.

Hanya dengkungannya yang terdengar dari dedaunan di tanah berlumut di hutan terpencil di dataran tinggi Taman Nasional Manu, sampai herpetolog Jerman dan Peru menemukan amfibi mungil itu di bagian tenggara Peru. Nama populer spesies baru ini, katak kerdil noble, sungguh menggambarkan binatang yang hanya memiliki panjang rata-rata 11,4 milimeter.

Keberadaan katak itu diperkenalkan oleh Edgar Lehr, herpetolog Jerman, dalam sebuah makalah yang dipublikasikan di jurnal Copeia terbaru. Ahli reptil dari Senckenberg Natural History Collection Dresden itu menemukan katak itu bersama ahli ekologi, Alessandro Catenazzi dari University of California di Berkeley, Amerika Serikat.

Reptil kerdil itu ditemukan dalam sebuah kerja lapangan di stasiun riset Wayqecha. Tak hanya ukurannya yang membuat katak itu baru ditemukan, tapi warna kulit yang kecokelatan diketahui mampu mengkamuflase Noblella dengan sempurna. Katak itu bisa ditemukan berkat bantuan masyarakat asli yang tinggal di dekat Taman Nasional Manu.

Taman Nasional Manu memang terkenal sebagai "hot spot" di hutan hujan dataran rendah, sebuah tempat dengan keanekaragaman hayati yang berlimpah. Meski begitu, cagar biosfer itu juga memelihara kawasan hutan pegunungan yang amat luas, tempat yang kerap diselimuti kabut.

Di lingkungan terpencil itu, banyak tumbuhan dan fauna yang bisa berkembang tanpa gangguan dan sangat beradaptasi dengan suhu rendah dan kelembapan dengan temperatur rata-rata harian 11 derajat Celsius. Studi genetik memperlihatkan bahwa keanekaragaman amfibi di kawasan itu amat dipandang remeh sehingga Edgar Lehr dan Alessandro Catenazzi yakin, selain Noblella pygmaea, masih banyak amfibi lain di Pegunungan Andes yang belum ditemukan. Para ilmuwan itu memperkirakan dalam beberapa tahun mendatang mereka bisa menemukan spesies baru lagi.

Saat ini, katak kerdil tersebut adalah salah satu vertebrata terkecil yang pernah ditemukan di atas 3.000 meter. Pada ketinggian itu, umumnya spesies fauna yang ditemukan cenderung lebih besar daripada congeneric atau spesies serupa yang hidup di dataran rendah.

Noblella pygmaea mendiami hutan kabut, semak pegunungan, dan rerumputan di dataran tinggi pada ketinggian 3.025-3.190 meter di atas permukaan laut. Selain ukurannya mungil, katak ini memiliki telunjuk yang amat panjang, membedakannya dari katak pygmy lain di pegunungan Peru.

Tempo Interaktif

Ngengat Baru Bersayap Pink


Berbeda dengan sayap ngengat nocturnal yang umumnya didominasi warna kecoklatan yang membosankan, jenis ngengat yang baru ditemukan di Pegunungan Chiricahua, sebelah timur Tucson, Arizona, ini merupakan perkecualian. Sayapnya berwarna merah jambu.

Ahli biologi University of Arizona, Bruce Walsh, menemukan serangga tersebut secara tak sengaja ketika sedang menekuni hobinya mengumpulkan ngengat di pegunungan itu. Pakar perkembangbiakan binatang dan tumbuhan itu menangkap ngengat dengan cara menyinari selembar kertas dengan lampu merkuri. Ngengat bakal tertarik oleh cahaya dan mendarat di atas kertas.

"Ngengat besar ini hinggap di situ dan kami tidak menduga dia adalah spesies baru karena mirip dengan ngengat sutera," kata Walsh. "Ngengat sutera Doris yang makan di pohon pinus mempunyai sayap berwana gelap dengan sedikit warna pink di sayap belakangnya. Serangga ini umum ditemukan di sana."

Ketika diteliti lebih dekat, ngengat betina itu ternyata spesies berbeda dari famili yang juga berbeda dari ngengat sutera. Ngengat marga Lithophane, yang merupakan anggota famili ngengat nocturnal, biasanya memiliki sayap berwarna kecoklatan, namun serangga temuan Walsh justru bersayap pink terang. Tes DNA memastikan ngengat itu adalah spesies baru.

Walsh menamai ngengat itu Lithophane leeae, seperti nama istrinya, Lee, yang menyukai warna merah jambu. Temuan ini dipublikasikan secara detail dalam jurnal Zoo Keys.
Meski populasinya diperkirakan cukup banyak, tetapi ngengat ini cukup sulit ditemukan karena ngengat seperti Lithophane cenderung menghabiskan musim dingin pada daerah yang lebih tinggi, berhibernasi ketika salju menumpuk menutupi tanah dan terbang begitu musim semi tiba.

Walsh menduga spesimen L. leeae yang ditemukannya adalah serangga yang terlambat bangun dari hibernasi panjangnya, atau berasal dari wilayah pegunungan lain di kawasan itu. Dia menyatakan ada sejumlah spesies yang terbang lebih awal di musim panas dan jarang ditemukan dalam koleksi serangga, bahkan jarang terlihat selama bertahun-tahun.

Tempo Interaktif

Sunday, May 24, 2009

Melindungi Telur Maleo dari Penggorengan

Induk maleo kini tak perlu khawatir lagi meninggalkan telurnya terkubur dalam lubang pasir yang hangat. Sarang-sarang maleo yang tersebar di sepanjang Pantai Binerean kini aman dari pencurian dan penjarahan sejak kawasan itu ditetapkan sebagai pantai pribadi maleo.

Sepanjang hari telur-telur mereka akan dijaga oleh seorang petugas. Lembaga konservasi Wildlife Conservation Society (WCS) dan Pelestari Alam Liar dan Satwa (PALS) bekerja bahu-membahu melindungi kawasan yang diperkirakan berisi 40 sarang maleo itu.

Biasanya, maleo akan menggali lubang lebih dari setengah meter untuk menyembunyikan telurnya dari binatang predator. Sekitar 60 hari kemudian, telur itu akan menetas. Istimewanya, begitu keluar dari telurnya, anak-anak maleo langsung bisa terbang dan mencari makanan sendiri.

Berbeda dengan anak unggas lain yang masih berbulu halus dan perlu berhari-hari untuk berganti bulu, sayap anak maleo telah tumbuh sempurna. Kecepatannya berlari dan terbangnya juga sudah semahir unggas dewasa. Itu semua berkat nutrisi dalam telur maleo yang bisa lima kali lipat dari ukuran telur ayam, tapi membuat telur itu juga diincar manusia untuk dijual maupun dikonsumsi.

John Tasirin, koordinator program WCS di Sulawesi, amat optimistis status baru pantai di Tanjung Binerean itu bisa menjamin kelangsungan hidup burung yang menjadi simbol kekayaan sumber daya hayati di Sulawesi tersebut. Mereka juga membangun sebuah stasiun riset sederhana di lahan itu.

"Tanah itu terisolasi, tak ada jalan yang menghubungkannya ke jalan besar sehingga amat menguntungkan bagi upaya konservasi yang kami lakukan," katanya. "Untuk mencapai tanjung tersebut, orang harus berjalan kaki dari Desa Mataindo dengan menyeberangi anak sungai dan sebuah sungai besar.

Binerean, kata John, adalah lokasi yang amat potensial untuk menyelamatkan sarang tempat maleo bertelur. Burung seukuran ayam dengan dahi yang seolah sedang memakai helm hitam itu memang amat pemilih. Dia tidak bisa bertelur di sembarang tempat.

Satwa endemik Sulawesi itu hanya mau bertelur di tempat yang memiliki sumber panas bumi atau di pantai berpasir yang hangat. Salah satu tempat bertelur maleo yang masih tergolong bagus ada di Tambun, di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Bolaang Mongondow. Letaknya tak jauh dari Gunung Ambang yang masih aktif sehingga banyak sumber air panas ditemukan di sana. Sumber air panas inilah yang dimanfaatkan maleo untuk menghangatkan tanah tempat telur terkubur.

Burung hitam dengan perut merah jambu dan bermuka kuning itu kini jumlahnya di alam diperkirakan tinggal 5.000 hingga 10 ribu ekor. Populasi burung famili Megapodidae atau berkaki besar ini terus menurun sehingga masuk kategori Endangered atau terancam punah dalam IUCN Red List 2009.

Menurut situs BirdLife, dari 142 lahan tempat bertelur yang masih ada atau sempat diketahui, 48 di antaranya telah ditinggalkan, 51 sangat terancam, dan 32 lainnya masuk kategori terancam. Hanya empat nesting ground yang bisa dibilang belum terancam sedangkan status tujuh situs lainnya tidak diketahui. Jumlah telur di setiap situs bertelur pun semakin sedikit.

Di Tambun Nesting Ground, misalnya, jumlah telur yang ditemukan maksimal lima butir per hari, itu pun pada musim bertelur antara Januari-April. Sebelum 1990, telur maleo yang ditemukan di lokasi bertelur bisa mencapai 40 butir setiap hari.

Sumber : www.tempointeraktif.com/hg/sains/2009/05/22/brk,20090522-177608,id.html

Kuda Laut Mini dari Kalimantan, Temuan Spesies Baru 2008

Komisi taksonomi internasional, sebuah komisi yang bertanggung jawab terhadap eksplorasi dan klasifikasi makhluk hidup diatas bumi, Jumat (22/5), bersama dengan The International Institute for Species Exploration, Universitas Arizona, mengumumkan 10 species temuan terbaru yang paling populer tahun 2008.


Diantara 10 spesies temuan terbaru itu adalah sebuah spesies kuda laut berukuran mini, yang hidup di kedalaman laut kawasan Pulau Derawan, Kebupaten Berau, Kalimantan Timur. Spesies kuda laut temuan baru ini diberi nama, Hippocamus satomie, yang berukuran panjang 13,8 milimeter dan lebar 11,5 milimeter. Diberi nama akhiran satomie, untuk menghormati salah seorang penyelam, Satomi Onishi, yang telah membantu mengumpulkan koleksi penemuan spesies ini.

Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur, selama ini memang terkenal sebagai gudangnya biota laut yang unik-unik. Berbagai spesies kuda laut dalam berbagai ukuran ditemukan juga disini. Hal ini karena laut di wilayah ini masih belum banyak dirambah manusia. Di kepulauan Derawan juga ditemukan adanya karang Blue Tigger Wall, yang berada pada kedalaman 10 meter dibawah laut, berupa tebing karang sepanjang 18 meter tempat hidup ikan trigger dan ribuan biota laut lain.

Dari dunia tumbuhan tingkat tinggi, tahun 2008 ditemukan sebuah pohon palem raksasa, yang diberi nama Tahina spectabilis, yang tumbuh dalam sebuah lingkungan kecil di sebelah barat laut Madagascar, Afrika, dan hanya ditemukan 100 pohon yang tumbuh ditempat itu. Tumbuhan ini memiliki bunga yang besar-besar dan menarik, dan sesudah berbuah, pohon palem ini akan mati sendiri. Segera sesudah pengumuman temuan ini, palem tersebut menjadi sangat terkenal, dibiakkan dimana-mana, dan menjadi komiditi mahal di desa tempat tumbuhan ini berkembang.

Spesies temuan baru lain adalah berupa tanaman kopi yang bebas kafein, yang diberi nama Coffea charrieriana, ditemukan di Kamerun, Afrika Tengah. Diambil dari nama Profesor Andre Charrier yang telah selama bertahun-tahun meneliti spesies ini. Dari dunia mikroba, sebuah spesies microbacterium yang kemungkinan merupakan species baru ditemukan di alat 'hairspray' oleh peneliti dari Jepang. Spesies bakterium ini diberi nama Microbacterium hatanonis, yang merujuk pada peneliti penemunya, Kazunori Hatano.

Dari keluarga insekta, sebuah insekta terpanjang di dunia juga ditemukan dari jazirah Kalimantan, tepatnya ditemukan di wilayah Kalimantan yang masuk wilayah Malaysia, Sabah. Insekta ini diberi nama Phobaeticus chani yang berukuran panjang tubuh 36,6 centimeter dan panjang keseluruhan bersama sayap sepanjang 56,7 centimeter, dan kini dianggap sebagai insekta terpanjang di dunia.

Dari kawasan Kepulauan Barbados, ditemukan ular paling kecil didunia, yaitu Leptotyphlops carlae, yang berukuran 104 milimeter. Ditemukan oleh St Joseph Parish. Sedangkan dari keluarga Moluska, sebuah moluska yang agak aneh, Selenochlamys ysbryda, yang juga dijuluki sebagai moluska hantu, ditemukan dalam populasi yang besar di Cardiff, Glamorgan, Wales. Berbentuk mirip seperti lintah, namun berwarna putih. Spesies ini ditemukan tahun 2006, namun baru diberi nama tahun 2008.

Dari keluarga siput, ditemukan sebuah siput unik, Opisthostoma vermiculum, di wilayah Malaysia. Spesies ini dianggap unik karena memiliki morfologi seperti morfologi siput jaman dulu yang tengah berevolusi, dengan cangkang berkelok-kelok melingkari empat poros. Kebanyakan bentuk cangkang siput dari era sekarang, berkelok-kelok pada satu poros. Spesies ini endemik di sebuah habitat batu gamping di kawasan Malaysia. Sedangkan spesies baru dari keluarga bangsa ikan ditemukan di kawasan Pulau Ngemelis, Palau, yaitu Chromis abyssus, sebuah ikan cantik yang terdaftar pada urutan pertama dalam taksonomi hewan baru 2008.

Sebuah temuan fosil ikan Masterpiece attenboroughi, juga dimasukkan sebagai salah satu temuan spesies baru tahun ini, meski hanya temuan berupa fosilnya saja, karena sampai sebelum punah, spesies ini belum pernah diberi nama. Ditemukan di perairan Australia Barat, yang menunjukkan spesies ini pernah hidup sekitar 380 juta tahun yang lalu.

Pengumuman 10 spesies temuan baru ini, selalu dilakukan oleh komisi taksonomi internasional setiap tahun, untuk mengenang jasa Carolus Linneaus, bapak ilmu taksonomi modern, yang tanggal lahirnya selalu diperingati pada 23 Mei. Tahun lalu, merupakan tahun perayaan terbesar memperingati 300 tahun kelahiran Linneaus. Sampai saat ini diperkirakan baru ada sekitar 1,8 juta spesies yang berhasil diberi nama, didokumentasikan dan diklasifikasikan, sejak Linneaus merintisnya pada abad ke-18. Kalangan ilmuwan memperkirakan sekitar 2 juta - 100 juta spesies makhluk hidup di muka bumi, masih belum diberi nama dan diklasifikasikan.

Daftar 10 spesies diatas merupakan daftar temuan spesies-spesies baru yang menarik perhatian sepanjang 2008. Bukan berarti sepanjang tahun 2008 hanya ditemukan 10 spesies tersebut. Sepanjang tahun 1007 saja ditemukan sekitar 18.516 spesies baru yang berhasil diidentifikasi. Dari jumlah itu 75,6 persen merupakan hewan, 11,1 persen merupakan tumbuhan tingkat tinggi, dan 6,7 persen diantaranya merupakan vertebrata.

Sumber : www.tempointeraktif.com/hg/sains/2009/05/24/brk,20090524-177850,id.html